LATEST NEWS

Kisah Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Istri-Istrinya

Author - November 11, 2014

Kisah pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan istri-istrinya merupakan salah satu kisah yang menarik bagi kaum muslim mengingat Nabi Muhammad memiliki cukup banyak istri. Istri-istri Muhammad ini oleh kaumnya sering disebut sebagai Ummahaat ul-Mu’miniin yang berarti ibu dari umat mu’min. Hal ini diambil dari surat Al-Ahzab ayat 6 yang kurang lebih berbunyi “Nabi ialah (hendaknya) lebih utama bagi para mu’min jika dibandingkan dengan diri mereka, dan istri-istrinya merupakan ibunda para mu’min”. Kehidupan Nabi Muhammad SAW sendiri bisa direntangkan dalam dua zaman, yaitu pre-hijrah di Mekkah dari tahun 570 hingga tahun 622, dan post-hijrah di Madinah pada tahun 622 hingga beliau wafat pada tahun 632. Semua pernikahan Nabi Muhammad SAW dilaksanakan di Mekah kecuali dua pernikahan yang dilaksanakan setelah beliau Hijrah ke Madinah.

Kisah Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Istri-Istrinya

Pernikahan Nabi Muhammad SAW
Kisah pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan istri-istrinya sering menjadi patokan bagi seseorang untuk melakukan pernikahan lagi, tapi sebetulnya ada beberapa alasan mengapa Nabi Muhammad melakukan pernikahan lagi, dan alasan-alasan yang ada empat tersebut adalah:

  • Membantu janda-janda dari para Sahabat yang gugur di medan perang.
  • Menciptakan ikatan kekeluargaan antara beliau dan para Sahabat.
    – Muhammad menikahi putri dari Abu Bakar dan Umar.
    – Usman dan Ali menikahi anak-anak perempuan Muhammad.
    – Kedua hal tadi membuat Muhammad memiliki ikatan keluarga dengan keempat Khalifah pertama.
  • Menyebarkan ajarannya dengan cara menyatukan berbagai klan yang berbeda lewat pernikahan.
  • Meningkatkan kredibilitas tentang kehiduban pribadi berumah tangganya. Jika istrinya hanya satu, ditakutkan akan menjadi beban besar bagi istri tersebut dan beliau takut istrinya akan didiskreditkan oleh orang lain. Dengan adanya istri lain, sumber pengetahuan akan lebih banyak, dan pendiskreditan menjadi lebih sulit.

Pernikahan pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad terjadi pada saat beliau berumur 25 tahun. Istri pertama beliau adalah Khadijah yang saat itu berumur 40 tahun, dan hingga umur Muhammad 50 tahun, ia hanya memiliki satu istri. Baru setelahnya, ia dipercaya memiliki lebih dari satu istri karena alasan-alasan di atas. Nabi Muhammad juga hanya menikahi janda yang suaminya telah meninggal atau wanita yang diceraikan, dengan Aisyah sebagai pengecualian.

Kisah pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan istri-istrinya dimulai dengan pernikahan Nabi Muhammad kepada seorang wanita kaya yang mempekerjakannya, wanita pedagang berumur 40 tahun yang bernama Khadijah binti Khuwaylid. Pernikahan pertama Muhammad ini merupakan pernikahan yang sangat bahagia dan sangat monogamis, dimana Muhammad bergantung pada kekayaan Khadijah dalam berbagai macam cara, hingga wafatnya Khadijah 25 tahun kemudian. Pernikahannya dengan Khadijah menghadiahkannya 2 orang anak laki-laki bernama Qasim dan Abdullah yang keduanya meninggal saat mereka muda. Selain anak laki-laki, pasangan ini juga dikaruniai 4 orang anak perempuan yang bernama Zaynab, Ruqaiya, Umi Kultum, dan Fatimah.

Pernikahan kedua Muhammad terjadi sebelum keberangkatannya ke Madinah dan merupakan anjuran dari Khawlah binti Hakim. Gadis yang dinikahi Muhammad untuk kedua kalinya bernama Sawda binti Zam’a yang mengalami banyak cobaan setelah menjadi muslim. Sebelumnya, Sawda menikah dengan pria bernama As-Sakran bin Amir dan memiliki lima atau enam orang anak. Terjadi beberapa perdebatan diantara pengamat muslim tentang siapa yang dinikahi oleh Nabi Muhammad terlebih dahulu, Aisyah atau Sawda.

Bab selanjutnya dalam kisah pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan istri-istrinya adalah ketika Nabi Muhammad menikahi anak dari salah satu Sahabat, yaitu Abu Bakar. Awalnya, Aisyah bertunangan dengan Jubayr ibn Mut’im, seorang Muslim yang ayahnya seorang Pagan, tapi bersahabat dengan para Muslim. Ketika Khawlah binti Hakim menyarankan agar Muhammad menikahi Aisyah setelah wafatnya Khadijah, perjanjian sebelumnya yang mengatur pertunangan Aisyah dengan Jubayr dibatalkan. Pertunangan antara Muhammad dan Aisyah terjadi ketika Aisyah berumur 6-7 tahun, meski begitu tradisi mengharuskan Aisyah tetap tinggal di rumah orangtuanya hingga umur 9-10 tahun ketika pernikahan tadi diwujudkan di Madinah oleh Muhammad yang saat itu berumur 53 tahun. Aisyah merupakan seseorang yang gemar belajar, dan dikenal menarasikan 2210 hadis tentang berbagai macam hal.

Saat terjadi perang dengan Mekah, banyak pria-pria yang tewas di medan perang meninggalkan istri dan anak-anak mereka. Salah satu korban dari perang ini adalah Hafsa binti Umar, anak dari Umar bin Khattab yang menjanda saat perang Badar ketika suaminya gugur. Nabi Muhammad menikahi Hafsa pada tahun 625. Korban lainnya adalah Zaynab binti Khuzayma yang mengalami nasib yang sama, istri dari Ubaydah al-Haris, Muslim yang taat dari kaum al-Muttalib. Zaynab kemudian dinikahi dan diberi julukan Umm al-Masakeen yang secara kasar dapat diartikan sebagai ibu dari mereka yang miskin. Julukan tersebut diberikan karena kebaikan hatinya. Setelah Zaynab meninggal delapan bulan setelah pernikahannya, Abu Salamah yang merupakan salah satu Muslim taat juga meninggal karena luka yang ia terima pada perang Uhud. Kematian Abu Salama meninggalkan Ummu Salama binti Abi Umayya dan seorang anak muda.

Kisah pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan istri-istrinya berlanjut dengan pernikahan Muhammad kepada wanita-wanita sebagai berikut:

  • Juwayriyya binti al-Haris yang merupakan tahanan Banu Mustaliq. Suaminya tewas dalam perang dan dia ditangkap.
  • Safiyya binti Huyeiy Ibnu Akhtab yang dinikahi karena suami terakhirnya dieksekusi pada perang Khaybar.
  • Ramla binti Abi Sufyan yang dinikahi oleh Nabi Muhammad setelah ditandatanganinya perjanjian perdamaian dengan Mekah.
  • Maymuna binti al-Haris yang melamar Muhammad. Pernikahan ini membuat Muhammat memiliki hubungan dengan bani Makhzum.