LATEST NEWS

Rekam Jejak dari Sejarah Kerajaan Singasari Masa ke Masa

Author - October 21, 2014

Sejarah Kerajaan Singasari baru dimulai pada abad ke-13, dimana pada masa itu Singasari hanya sebuah desa di sebelah timur dari Gunung Kawi dimana posisinya terletak pada hulu Sungai Brantas yang berada di wilayah Jawa Timur. Kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok setelah ia berhasil mengalahkan raja Kediri yang bernama Kertajaya.

Sejarah Berdirinya Singasari
Pada tahun 1222, raja Kediri pada masa itu sedang dalam perselisihan dengan kaum Brahmana karena ia meminta para Brahmana untuk menyembahnya sebagai dewa. Perselisihan ini mendorong para Brahmana untuk meminta perlindungan dari Ken Arok yang merupakan akuwu (kepala daerah) Tumapel. Oleh Ken Arok, permintaan ini juga ia lihat sebagai kesempatannya untuk mewujudkan cita-citanya memerdekakan Tumapel dari cengkraman Kerajaan Kediri.

Rekam Jejak dari Sejarah Kerajaan Singasari Masa ke Masa

Cerita mengenai Kerajaan Singasari baru dimulai pada tahun 1254 saat pecah perang di dekat desa Ganter antara kaum Brahmana yang kini telah bergabung dengan pasukan Ken Arok melawan pasukan dari Kerajaan Kediri. Perang besar tersebut dimenangkan oleh pasukan Ken Arok dengan terbunuhnya Mahesa Wulungan dan Kertajaya. Keberhasilan perang membuat Ken Arok mengganti status Tumapel menjadi kerajaan dan menurunkan status Kerajaan Kediri menjadi Kadipaten. Ketika Ken Arok menjadi raja pertama Tumapel, ia memberi gelar “Sri Rajasa Sang Amurwabhumi” pada dirinya sendiri.

Ada beberapa versi penceritaan tentang siapa pendiri Kerajaan Singasari ini sendiri. Menurut Nagarakertagama, pendiri Singasari bernama Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra yang berhasil mengalahkan Kertajaya. Di lain pihak, Prasasti Mula Malurung pada tahun 1255 menyebutkan bahwa pendiri Singasari adalah Bhatara Siwa. Nama ini diperkirakan merupakan gelar anumerta dari Ranggah Rajasa. Sementara itu, Pararaton menyebutkan bahwa Bhatara Siwa adalah julukan Ken Arok sebelum maju melawan Kerajaan Kediri dalam perang.

Silsilah Raja Singasari
Kerajaan Singasari memiliki silsilah raja yang tertulis dalam dua versi, yaitu versi Pararaton dan Nagarakertagama. Pararaton menuliskan silsilah rajanya dengan Ken Arok sebagai raja pertama, dilanjutkan oleh Anusapatai, Tohjaya, Ranggawuni yang juga dikenal dengan nama Wisnuwardhana, serta Kertanegara sebagai raja terakhir dari Singasari. Sementara Nagarakertagama menuliskan Rangga Rajasa Sang Grinathaputra sebagai raja pertama dan pendiri Singasari, yang dilanjutkan oleh Anusapati, kemudian Wisnuwardhana, serta raja terakhir Kertanegara.

Dalam versi Pararaton, perpindahan kekuasaan ditandai dengan pertumpahan darah berlatar dendam. Ken Arok yang mati dibunuh Anusapati, anak tirinya sendiri. Anusapati kemudian mati di tangan Tohjaya yang merupakan anak Ken Arok dari salah satu selirnya. Tohjaya sendiri tidak lepas dari takdir ini karena ia mati akibat pemberontakan dari anak Anusapati, yaitu Ranggawuni. Perpindahan kekuasaan yang damai baru terjadi ketika Ranggawuni mengangkat Kertanegara sebagai raja. Versi Nagarakertagama menghilangkan semua pertumpahan yang terjadi antara raja-raja Singasari. Hal ini bisa dimaklumi mengingat tujuan dibuatnya Nagarakertagama sebagai kitab pujian bagi Hayam Wuruk dan semua peristiwa berdarah yang dilakukan oleh leluhur Hayam Wuruk dicap sebagai sebuah aib.

Jika versi Pararaton dapat dipercaya, maka ada kemungkinan bahwa tragedi berdarah kerajaan Singasari diawali dari Ken Arok yang merebut posisi akuwu Tumapel dari Tunggul Ametung. Ken Arok berniat membunuh Tunggul Ametung karena ia tertarik oleh kecantikan istri Tunggul Ametung, yaitu Ken Dedes. Untuk membunuh Tunggul Ametung ini ia meminta pertolongan Mpu Gandring untuk membuat sebuah keris. Karena Ken Arok tidak mampu melawan nafsu untuk segera meminang Ken Dedes, ia merebut keris yang masih belum sempurna dari tangan Mpu Gandring dan membunuh pembuat keris tersebut. Pada saat-saat terakhirnya, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa keris itu akan membunuh Ken Arok hingga tujuh turunan.

Pada pemerintahan Wisnuwardhana, Kertanegara diangkat menjadi raja muda sebagai penggantinya kelak. Kertanegara segera diangkat sebagai raja ketika Wisnuwardana wafat pada tahun 1268. Era pemerintahan Kertanegara merupakan era keemasan dalam sejarah Kerajaan Singasari karena mimpinya yang amat besar dalam menyatukan wilayah nusantara. Gelar yang ia miliki adalah Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara.

Untuk menggapai impiannya menyatukan seluruh nusantara, Kertanegara dibantu oleh tiga mahamentri. Selain itu ia juga melakukan penggantian pada para pejabat kolot dengan pejabat muda. Pada akhirnya, ia berhasil menyatukan seluruh Jawa, dan ia memusatkan perhatiannya ke Melayu. Pengiriman utusannya ke Melayu yang dipimpin oleh Adityawarman, dan berhasil menaklukan Kerajaan Melayu pada tahun 1275 ini nantinya dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu. Mimpi Kertanegara hampir terwujud karena ia juga berhasil menaklukan Bali, Kalimantan Barat, dan juga Maluku. Ia juga berhasil menjalin hubungan dengan raja Campa demi menahan perluasan wilayah Dinasti Mongol. Hal ini adalah hal yang di kemudian hari akan menghancurkan Singasari karena Kertanegara menolak mengakui Kubilai Khan sebagai yang dipertuan dengan cara melukai wajah Meng Chi, utusan Kubilai Khan.

Runtuhnya Kerajaan Singasari
Kesalahan yang diperbuat oleh Kertanegara adalah melukai wajah utusan Dinasti Mongol yang menyulut kemarahan besar Kubilai Khan. Tindakan yang diambil Kubilai Khan juga tidak kalah mengejutkan, Ia mengirim pasukan untuk menghukum tindakan Kertanegara. Dengan berkurangnya jumlah pasukan Kerajaan Singasari karena ekspedisi Pamalayu, pasukan yang menjaga kerajaan harus dikorbankan untuk menghalau pasukan Kubilai Khan. Melihat kesempatan emas ini, Jayakatwang yang merupakan raja Kediri pada masa itu memilih mengikuti usulan Aria Wiraraja untuk menyerang kerajaan Singasari. Benar saja, penyerangan dua arah yang dilakukan oleh Jayakatwang akhirnya berhasil menembus pertahanan pasukan Kerajaan Singasari dan menemukan Kertanegara sedang berpesta pora dengan petinggi istana. Pembunuhan Kertanegara dan petinggi istana oleh pasukan Jayakatwang ini menandakan berakhirnya kekuasaan kerajaan Singasari.