LATEST NEWS

Sejarah Perang Salib

Author - November 30, 2014

Sejarah Perang Salib dimulai pada tahun 1095 yang melibatkan pasukan gereja yang disebut crusader melawan pasukan Muslim hampir di seluruh bagian benua Eropa. Perang Salib merupakan sebuah gerakan militer dari gereja Katolik Romawi dengan tujuan merebut kembali akses bagi masyarakat kristen akan tanah suci di Jerusalem yang dimulai pada sekitar tahun 1905 oleh Paus Urban II. Setelah Perang Salib Pertama, terjadi perselisihan selama 200 tahun untuk menentukan siapa yang berhak menduduki tanah suci, dengan 6 Perang Salib besar dan beberapa Perang Salib kecil. Pada tahun 1291, konflik ini berakhir dengan runtuhnya benteng milik pasukan Kristen di Acre dan setelahnya, pasukan Katolik Eropa tidak lagi melakukan serangan ke arah timur. Beberapa sejarawan menganggap bahwa Perang Salib merupakan sebuah perang bertahan dari sisi Gereja ketika menghadapi pendudukan oleh Islam, beberapa menganggapnya sebagai konflik lainnya yang terjadi di garis depan Eropa, dan yang lainnya melihat hal ini sebagai sebuah ekspansi agresif dan percaya diri yang dilakukan oleh Kekristenan Barat.

Sejarah Perang Salib

Awal Mula Perang Salib
Perang Salib mendapatkan namanya dari logo salib yang dikenakan oleh para pasukan gereja. Terdapat sedikit perbedaan sumber nama dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yaitu crusade. Dalam etimologi bahasa Inggris, crusade diambil dari bahasa Prancis croisade dan bahasa Spanyol cruzada yang keduanya berasal dari bahasa Latin cruciata atau cruzata yang berarti disalib. Meskipun para pasukan gereja dalam Perang Salib disebut dengan nama Crusader setelah perang, mereka tidak pernah dipanggil dengan nama tersebut ketika perang sedang berlangsung. Mereka lebih dikenal dengan nama fideles Sancti Petri yang berarti pengikut Santo Peter, atau milites Christi yang artinya ksatria Kristus.

Perang Salib dimulai ketika Reformasi dan Kontra-Reformasi yang terjadi pada abad ke-16, dan para sejarawan menelisik Perang Salib lewat kacamata agama mereka sendiri. Pemeluk Protestan melihat Perang Salib sebagai sebuah manifestasi kejahatan dari kepausan, sementara pihak Katolik melihat gerakan ini sebagai sebuah gerakan yang dilakukan demi kebaikan bersama. Pada abad Pencerahan, seluruh sejarawan tampak sepakat dan menilai bahwa seluruh Perang Salib dan Abad Pertengahan merupakan sebuah kelakuan barbar yang didorong oleh fanatisme. Peneliti-peneliti dari abad Pencerahan dan sejarawan modern di Barat sudah mulai memertanyakan masalah moral yang dilakukan oleh para Crusader ini, dan pada tahun 1950 Steven Runciman menulis bahwa Perang Salib tidak lain hanyalan sebuah kegiatan tanpa toleransi yang mengatasnamakan Tuhan.

Api yang menyulut tertulisnya sejarah Perang Salib mulai menyala pada tahun 636 ketika pasukan Muslim berhasil menundukkan tentara Bizantium dalam Perang Yarmouk dan kekuasaan akan Palestina diserahkan kepada dinasti Umayyad, dinasti Abbasid, dan Fatimid. Ketika masa itu terjadi pula lah tingkat toleransi, perdagangan, dan hubungan politik antara negara Arab dan negara-negara Kristen Eropa mengalami pasang surut dan terus berlanjut hingga tahun 1072 ketika Fatimid kehilangan kontrol akan Palestina kepada Kekaisaran Agung Seljuk. Salah satu contoh kejadian ini adalah ketika khalifah Fatimid yang bernama al-Hakin bin Amrullah memerintahkan penghancuran Gereja Sepulchre dan tidak mampu berbuat apa-apa ketika penerusnya mengizinkan kekaisaran Bizantium membangunnya kembali.

Masa-Masa Perang Salib
Perang Salib yang pertama terjadi adalah Reconquista yang berarti pengambilan kembali. Perang ini sebenarnya dimulai pada abad ke-8 dan mulai memasuki titik balik dengan pendudukan kembali Toledo pada tahun 1805 dan baru mendapatkan “status” sebagai Perang Salib ketika Paus Calixtus II menyatakannya di tahun 1123. Perang Salib yang kedua adalah Perang Salib Rakyat yang terjadi tahun 1096 yang dimulai karena Paus Urban terinspirasi oleh ceramah Peter sang Pertama dan akhirnya memimpin 20.000 orang biasa menuju Tanah Suci tepat setelah Paskah tahun itu.

Sejarah Perang Salib berlanjut dengan Perang Salib Pertama yang terjadi dari tahun 1095 hingga 1099. Para crusader yang ikut dalam perang ini berangkat dari Prancis dan Italia pada waktu berbeda yaitu Agustus dan September dengan Hugh Vermandois berangkat pertama membawa 4 bagian dari tentara yang pergi menuju Konstantinopel secara terpisah. Pemimpin-pemimpin Perang Salib pertama ini antara lain adalah: Godfrey dari Bouillon, Robert Curthose, Hugh Vermandois, Baldwin dari Bouillon, Tancred de Hauteville, dan banyak lagi. Para crusader berusaha menyerang Turki melawan pasukan gabungan Yahudi dan Muslim yang akhirnya mereka basmi tanpa ampun. Para crusader kemudian membentuk 4 crusader states yaitu Edessa, Antioch, Tripoli, dan Jerusalem. Ketika mereka sudah merasa menang, Imad ad-Din Zengi yang saat itu merupakan gubernur Mosul berhasil menduduki Aleppo pada 1128 dan Edessa pada 1144. Kehilangan crusader state ini memaksa Paus Eugenius III untuk mengadakan Perang Salib lanjutan.

Perang Salib kedua terjadi pada tahun 1147 hingga 1149 dan sudah diperkiran oleh beberapa penceramah yang salah satunya adalah Bernard dari Clairvaux. Perang ini dimulai tanpa kemenangan signifikan setelah pasukan milik Louis VII dan Conrad III bergerak ke Jerusalem pada tahun 1147 dan melancarkan sebuah serangan dadakan yang gagal di Damaskus. Meski begitu, perang ini mendapat berita bagus dengan kemenangan pasukan Eropa Utara yang berhasil mengambil kembali Lisbon. Sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya, terjadi lagi beberapa Perang Salib yaitu: Perang Salib Swedia Pertama, Kedua, Ketiga, Perang Salib Ketiga, Perang Salib 1197, Perang Salib Keempat, Perang Salib Albigensia, Perang Salib Anak-anak, Perang Salib Kelima, Perang Salib Keenam, Perang Salib Salib Ketujuh, Perang Salib Kedelapan, Perang Salib Kesembilang, Perang Salib Aragon, Perang Salib Smyrniote, Aleksandria, dan Savoyard, dan beberapa Perang Salib kecil lainnya yang membentuk sebuah daftar panjang tentang sejarah Perang Salib.