LATEST NEWS

Sejarah Peristiwa Letusan Gunung Kelud

Author - November 2, 2014

Gunung Kelud atau yang memiliki nama lain Klut, Cloot, Kloet, Kloete, Keloed, atau Kelut merupakan sebuah gunung api yang terletak di bagian timur pulau Jawa, tepatnya 27 km dari timur kota Kediri yang merupakan perbatasan antara kabupaten Blitar, Kediri, dan Malang. Sejarah gunung Kelud di dunia tercatat karena aktivitasnya, dimana sudah terjadi 30 kali letusan yang dimulai dari tahun 1000, dan letusan terbesarnya memiliki kekuatan 5 Volcanic Explosivity Index. Bagaimana kronologi letusan gunung kelud itu dari masa ke masa ? Berikut Kumpulan Sejarah akan menginformasikan secara lengkap mengenai Sejarah Peristiwa Letusan Gunung Kelud tersebut.

Sejarah Peristiwa Letusan Gunung Kelud

Morfologi Gunung Kelud
Tidak ada yang tahu pasti kapan sejarah gunung kelud ini awalnya, tapi yang diketahui adalah pembentukannya diakibatkan oleh subduksi lempeng Indo-Australia terhadap Eurasia, sama seperti gunung-gunung api di Pulau Jawa kebanyakan. Gunung Kelud sendiri merupakan sebuah gunung dengan tipe stratovulkan, dan memiliki karakteristik letusan yang eksplosif. Gunung Kelud kemudian menjadi berbahaya karena catatan letusannya terjadi dalam waktu yang lumayan pendek yaitu 9 hingga 25 tahun.

Yang membuat gunung api ini unik ialah danau kawah, dimana saat kondisi letusan mampu mengalirkan lahar dengan jumlah besar. Lahar yang dialirkan oleh gunung ini merupakan bahaya laten yang mengancam penduduk yang tinggal di sekitar area gunung. Pada tahun 2007, terjadi sebuah letusan freatik yang hampir membinasakan danau kawah karena ada sumbat lava yang muncul ke permukaan danau tersebut dan menyisakan hanya sebuah genangan yang berukuran seperti kubangan air. Pada awal tahun 2014, sebuah letusan besar terjadi dan sumbat lava ini akhirnya hancur.

Letusan besar di masa lalu meruntuhkan bagian-bagian yang membentuk puncak purba dan sekarang hanya meninggalkan beberapa. Puncak-puncak yang tersisa adalah:

  • Puncak Kelud, puncak tertinggi yang terletak di daerah timur laut dari kawah.
  • Puncak Gajahmungkur, puncak kedua yang posisinya ada di sisi barat kawah.
  • Puncak Sumbing, puncak terakhir yang terletak di sisi selatan kawah.

Linimasa Aktivitas Gunung Kelud
Sejarah gunung Kelud dan letusannya dipercaya telah merenggut lebih dari 15.000 korban jiwa sejak dimulainya abad ke-15. Pada tahun 1586 sendiri saja, amukan gunung ini telah menelan lebih dari 10.000 jiwa. Salah satu letusan terbesar adalah letusan di tahun 1919, dimana korban jiwa mencapai angka ribuan serta menghabisi pemukiman penduduk. Akibat letusan tersebut, dibuatlah sebuah sistem pengalir lahar pada tahun 1926 yang masih bisa digunakan hingga hari ini.

Letusan gunung Kelud di abad ke-20 tercatat sebanyak 5 kali, yaitu pada tahun 1901, tahun 1919, tahun 1951, tahun 1966, dan terakhir pada tahun 1990. Melihat tahun-tahun ledakan tersebut, para ahli memutuskan bahwa gunung Kelud memiliki siklus ledakan per 15 tahun. Putusan para ahli ini dipatahkan pada saat gunung ini kembali meletus di tahun 2007 dan selanjutnya pada tahun 2014. Berubahnya frekuensi letusan gunung ini diperkirakan terjadi karena adanya sumbat lava yang terdapat di mulut kawah.

Letusan pertama di abad ke-20 terjadi di antara tanggal 22 dan 23 Mei pada tahun 1901. Pada pukul 03.00 dini hari, letusan yang sebelumnya sudah terjadi berulang kali mulai meningkat. Suara yang ditimbulkan oleh letusan gunung ini dilaporkan bisa didengar hingga Pekalongan, sementara hujan abu yang diciptakan bisa sampai ke Bogor. Di Kediri, dilaporkan bahwa letusan Kelud membawa hembusan awan panas ke daerah itu. Meskipun kabar menyatakan bahwa banyak korban berjatuhan, tidak pernah ada catatan resmi tentangnya.

Sejarah gunung Kelud dan amarahnya terus berlanjut hingga pada tahun 1919, letusannya tercatat dalam laporan miliki seorang pejabat pengadilan Landraad, Wilhelm Wormser, yang saat itu bertugas di Tulung Agung. Letusan yang terjadi pada siang hari, 20 Mei 1919 ini dituliskan dalam catatan Wormser sebagai sesuatu yang amat mencekam dimana semua orang, dan bahkan hewan berlari untuk hidup mereka. Semakin lama udara semakin mencekik dan lahar menghancurkan semua yang dilewatinya. Ia juga menuliskan bahwa ribuan korban jiwa terkubur hidup-hidup dan bangunan serta pepohonan sudah tampak bagaikan sebatang korek api. Letusan ini termasuk salah satu dari letusan Kelud yang paling mematikan, dimana total korban jiwa ada sekitar 5.160 orang dan 15.000 hektar lahan rusak terkena aliran lahar.

Tanggal 31 Agustus 1951 menandakan kembali bangunnya gunung Kelud, dan kali ini letusan terjadi sekitar pukul 06.15 – 06.30. Letusan kali ini menyebabkan hujan abu pada beberapa kota di pulau Jawa seperti Yogyakarta, Surakarta, hingga Bandung. Hujan abu yang melanda kota tersebut menyebabkan pemerintah setempat menghentikan aktivitas sehari-hari mereka dan mengimbau penduduk untuk tetap ada di dalam rumah. Pada saat letusan terjadi, terowongan yang bertindak sebagai pembuangan air kawah telah selesai dibangun dan berkatnya kerusakan bisa diminimalisir. Korban jiwa yang tewas pada insiden ini ada 7 orang, dan 157 orang terluka. Karena letusan tahun ini juga, volume air meningkat hingga 50 juta m3.

Abad ke-19 ditutup dengan terjadinya 2 letusan yaitu pada 1966 dan 1990. Letusan ’66 terjadi pada 26 April 1966 malam, dan menewaskan 210 korban jiwa. Sistem terowongan yang ada rusak berat, hingga harus dibuat terowongan baru yang selesai pada tahun 1967 dan diberi nama terowongan Ampera. Meski begitu, terowongan ini tertutup saat terjadi letusan ’90 yang berlangsung 45 hari dari 10 Februari hingga 13 Maret tahun 1990.

letusan gunung kelud pada abad ke-20 terjadi sampai dua kali, yaitu di tahun 2007 dimana aktivitas gunung mulai terjadi pada September 2007. Setelah aktivitas menurun, pada tanggal 30 Oktober suhu air di kawah Kelud mulai meningkat dan terus naik hingga tanggal 3 November. Suhu air ini menyebabkan gejala baru yaitu muncup asap putih tebal dan letusan hanya terjadi untuk mendorong kubah lava sisa letusan ’90.