LATEST NEWS

Sejarah Pertempuran Medan Area

Author - November 16, 2014
Pertempuran Medan Area merupakan salah satu dari rangkaian pertempuran di Indonesia yang terjadi setelah Indonesia merdeka. Pertempuran ini berlangsung dari tanggal 13 Oktober 1945 dan seharusnya terjadi gencatan senjata pada tanggal 3 November 1946. Pada tanggal 15 November, pendudukkan Inggris atas Indonesia diserahkan sepenuhnya kepada Belanda secara resmi, dan tak butuh waktu lama untuk Belanda melanggar gencatan senjata yang sudah ditentukan karena pada tanggal 21 November, Belanda sudah mulai melakukan perampasan akan harta-harta milik penduduk dan menembaki pos pasukan di Stasiun Mabar dan Padang Bulan keesokan harinya. Perang yang terjadi ini merupakan perang antara rakyat Indonesia di Sumatera Barat melawan tentara Inggris dan Sekutu.
Sejarah Pertempuran Medan Area

Sejarah Pertempuran Medan Area
Sepuluh hari setelah memproklamirkan kemerdekaan di Jakarta, baru pada tanggal 27 Agustus 1945, Medan mendengarkan secara langsung proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dibacakan oleh Muhammad Hasan yang saat itu ditunjuk sebagai gubernur Sumatera pada kabinet presidensial milik Soekarno. Untuk merespon berita proklamasi ini, Ahmad Tahir kemudian membentuk Pemuda Indonesia. Pada tanggal 29 September, koran Medan yang bernama “Pewarta Deli” memberi kabar bahwa Republik Indonesia telah runtuh, dan mengikuti pemberitaan ini, nasionalis lokal kemudian mengadakan sebuah pertemuan dimana T.M. Hassan menyatakan bahwa berita ini bohong. Hal ini disusul dengan sebuah pidato oleh Abdoel’karim M.S. yang membuat orang-orang yang hadir menjadi bersemangat. Pada saat ini, tidak ada yang menyangka bahwa akan terjadi sebuah perang yang tercatat sebagai sejarah pertempuran Medan Area di buku sejarah anak cucu mereka.

Pada tanggal 7 Oktober 1945, Presiden Soekarno membubarkan Badan Keamanan Rakyat. Dua hari setelah itu, Presiden Soekarno memerintahkan pembentukan sebuah badan baru yang mampu membantu pengamanan daerah Sumatera, sehingga dibentuklah Tentara Keamanan Rakyat yang merupakan hasil peningkatan fungsi BKR sebelumnya, dan tentara-tentara inti dalam TKR ini juga adalah bekas prajurit-prajurit PETA. Hal ini disebabkan karena Soekarno mulai merasa bahwa daerah Indonesia agak sedikit tidak aman, terlebih dengan kedatangan lagi tentara Sekutu setelah Jepang menyerah.

Prediksi Soekarno tepat, dimana pada tanggal 10 Oktober 1945 tentara Sekutu brigade-4 Divisi India ke-26 mendarat di Sumatera Utara dengan Jenderal T. E. D. Kelly sebagai pemimpin mereka. Hal ini menjadi coretan pertama dalam sejarah pertempuran Medan Area, dan seperti di tempat lain, kedatangan Kelly juga bersamaan dengan pasukan Netherlands-Indies Civil Administration (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda, disingkat NICA). Begitu para tentara Sekutu ini tiba, mereka disambut oleh pemerintah provinsi Sumatera Utara yang membolehkan mereka untuk berlama-lama di beberapa hotel Medan yang sudah disiapkan yang antara lain adalah Hotel de Boer, Astoria, dan Gedung NHM. Kelly menyatakan bahwa tujuannya datang ke Indonesia adalah untuk mengambil kembali tawanan dari kamp-kamp yang ada dan memulangkan mereka.

Esoknya, tim Relief of Allied Prisoners of War and Interness (RAPWI) mulai bekerja dan mendatangi beberapa kamp tawanan untuk membawa mereka ke Medan. Hal ini tentu saja disetujui oleh Teuku Muhammad Hasan yang saat itu adalah Gubernur Sumatera, karena tujuannya baik. Meski telah mendapat kepercayaan, tentara Inggris nampaknya tidak bisa menjaga kepercayaan dengan baik, sehingga mereka malah mempersenjatai tentara-tentara yang baru saja dibebaskan, dan membentuk Medan Batalyon Koninklijk Nederlands-Indische Leger (Tentara Kerajaan Hindia Belanda, disingkat KNIL) dimana pasukan KNIL ini terdiri dari bekas tawanan yang tadi dipersenjatai.

Awalnya, rakyat masih bisa bersabar terhadap sifat arogan yang ditunjukkan oleh anggota KNIL. Hal ini bisa mereka pahami, karena para anggota KNIL tadinya sempat ditawan dan kini diberikan senjata, membuat diri mereka merasa menjadi lebih kuat. Namun amarah para pejuang tak lagi bisa terbendung ketika pada 13 Oktober 1945, satu tentara NICA merampas lencana Merah Putih dan menginjak-injaknya ditanah. Hal ini menjadi bensin bagi api yang masih membara di jiwa para prajurit, menuntun kepada dimulainya sejarah pertempuran Medan Area. Lima hari setelah insiden lencana yang seakan memprovokasi, Kelly mengeluarkan sebuah ultimatum yang melarang bangsa Indonesia membawa senjata, dan senjata-senjata yang sudah dimiliki harus diserahkan kepada tentara sekutu, dan hal ini juga berlaku untuk komandan pasukan Jepang yang saat itu masih berada di Indonesia agar mereka tak bisa meminjamkan atau memberikan senjata mereka pada TKR.

Sebenarnya yang menjadi pemicu utama perang mulai pecah adalah tragedi lencana pada tanggal 13 Oktober. Seusai penginjak-injakkan lencana, tentara yang merampas lencana itu segera diserang dengan berbagai senjata yang sedang dipegang oleh tentara pemuda. Peristiwa tadi menyebabkan meninggalnya opsir dan 7 serdadu NICA. Pada 16 Oktober, salah satu pemimpin Laskar Rakyat menyerang gudang persenjataan Jepang demi memperkuat tenaga api mereka sendiri. Setelah berhasil, serangan dilanjutkan dengan markas Belanda di Glugur Hong dan Halvetia yang menjadi sasara berikutnya. Serangan malam ini berhasil mengambil nyawa 5 orang tentara KNIL.

Setelah pemindahan lokasi pemerintahan menjadi ke Pematan Siantar, Pertempuran Medan Area terus berlanjut bahkan hingga akhir bulan Juli 1946. Pada 3 November, pihak Inggris mengusulkan untuk mengadakan gencatan senjata dan pada tanggl 15 November memberikan kontrol penuh kepada pihak Belanda untuk melanjutkan pendudukkan. Tak butuh waktu lama bagi Belanda untuk melanggar gencatan senjata, dan lanjut merampas harta-harta milik warga. Hal ini terus berlanjut hingga pada 1 Desember, Belanda meminta penghentian tembak-menembak karena mulai terdesak. Karena tahu akan kalah, Belanda mulai menggunakan segala taktik curang yang bisa mereka gunakan. Melihat hal ini dan untuk mencegah adanya konflik yang lebih luas, Soekarno memerintahkan penggabungan pasukan bersenjata kedalam Tentara Nasional Indonesia pada 3 Mei 1947.