LATEST NEWS

Sejarah Sebagai Ilmu, Kisah, Peristiwa dan Seni

Author - November 30, 2014

Sejarah sebagai ilmu, kisah, peristiwa, dan seni sudah dimulai sejak adanya pencatatan peristiwa oleh orang-orang. Kata “sejarah” sendiri merupakan sesuatu yang berlangsung di masa lalu, baik ingatan, penemuan, koleksi, organisasi, presentasi, dan interpretasi informasi tentang kejadian-kejadian tersebut. Kejadian yang terjadi sebelum adanya pencatatan peristiwa sering disebut sebagai sesuatu yang prasejarah. Orang yang dianggap sebagai bapak sejarah dunia oleh masyarakat barat adalah Herodotus, seorang sejarawan Yunani dari abad ke-5 sebelum masehi, bersama dengan Thycydides yang membentuk pondasi dari studi modern tentang sejarah manusia. Pekerjaan yang dilakukan oleh mereka berdua, hingga saat ini terus dibaca dan menjadi bahan perbincangan dalam penulisan sejarah modern. Sementara untuk dunia Timur, sejarah diperkirakan baru dikenal ketika muncul Spring and Autumn Annals, sebuah kronik Tiongkok kuno yang diperkirakan ditulis sejak tahun 722 sebelum masehi dan di dalamnya terdapat catatan tentang hal yang terjadi selama 241 tahun.

Sejarah sebagai Ilmu, Kisah, Peristiwa dan Seni

Awal Mula Penggunaan Sejarah
Penggunaan sejarah sebagai ilmu, kisah, peristiwa, dan seni harusnya bukanlah hal yang aneh mengingat arti kata sejarah. Kata ini merupakan translasi dari kata bahasa Inggris “history” yang sendirinya merupakan kata adopsi dari bahasa Yunani Kuno, historia yang berarti penyelidikan, pengetahuan dari penyelidikan, atau hakim. Arti kata ini juga lah yang mendukung penggunaan kata-kata Aristoteles yang berbunyi “Peri Ta Zoa Historial” yang berarti “penyelidikan tentang hewan”. Dalam bahasa inggris, kata “history” berarti hubungan antar kejadian, sementara di Middle English arti kata tersebut adalah “cerita” secara umum. Baru pada abad ke-15 lah penggunaan kata “history” menjadi tentang “catatan masa lalu”. Pada abad ke-16, Francis Bacon menulis tentang “Natural History” dimana baginya historia berarti “pengetahuan tentang sebuah objek dengan menelaah ruang dan waktu”.

Para sejarawan biasanya menulis sejarah dengan konteks waktu mereka sendiri dan dengan mempertimbangkan ide dominan mereka tentang bagaimana cara menginterpretasikan sebuah kejadian dalam masa lalu. Benedetto Croce juga pernah mengatakan bahwa semua sejarah adalah sejarah kontemporer, bahwa sejarah difasilitasi melalu formasi ‘ceramah tentang masa lalu’ yang merupakan produk dari narasi dan analisa kejadian masa lalu yang terkait dengan ras manusia. Setiap kejadian yang diingat kemudian akan diabadikan dalam sebuah catatan sejarah, dan tujuannya adalah untuk mengidentifikasi sumber mana yang mampu berperan banyak dalam reka ulang kejadian di masa lalu.

Ada beberapa metode untuk menjadikan sejarah sebagai ilmu, kisah, peristiwa, dan seni dan salah satu diantaranya adalah dengan metode sejarah. Meskipun Herodotus dari Halicarnassus adalah orang yang dianggap sebagai bapak dari sejarah, Thucydides lah yang dinilai sebagai orang pertama yang melakukan pendekatan sejarah dengan metode tepat. Pekerjaan yang membuatnya mendapatkan kehormatan sebagai orang pertama yang melakukan pendekatan dengan tepat adalah Sejarah perang Peloponnesian. Tidak seperti Herodotus, Thucydides menganggap sejarah sebagai hasil dari pilihan dan aksi dari umat manusia, baru kemudian ia melihat sebab akibat daripada menilai sejarah adalah hasil kerja Tuhan. Dalam metode penelitian sejarahnya, Thucydides menekankan semuanya pada kronologis, sebuah sudut pandang netral yang menganggap bahwa dunia kita sekarang terjadi karena perbuatan umat manusia sendiri.

Munculnya Studi Khusus Sejarah
Dalam perkembangannya, muncul sesuatu yang disebut Historiografi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari metodologi dari para sejarawan dan pengembangan sejarah sebagai disiplin. Ilmu ini pertama kali diterapkan pada era Mesopotamia dan Mesir kuno meskipun pada masa itu tidak ada sejarawan yang dikenal dengan namanya. Pada masa modern awal, kata historiografi biasa digunakan dalam hal yang lebih sederhana dan berarti “penulisan sejarah”, dan karena hal itu juga historiografer disebut juga sebagai sejarawan. Baru pada tahun 1988 Furay dan Salevouris menelurkan ide bahwa historiografi ialah sebuah studi tentang penulisan dan bagaimana sejarah terjadi – sejarah dari penulisan sejarah, bahwa ketika kita belajar tentang historiografi kita tidak secara langsung mempelajari kejadian di masa lalu tapi mengubahnya menjadi interpretasi individual tiap-tiap sejarawan yang menulis kisah tersebut.

Sejarah sebagai ilmu, kisah, peristiwa, dan seni mulai berkembang di jaman medieval dimana sejarah sering dipelajari melalui perspektif suci dan agamis. Baru pada tahun 1800 lah seorang filsuf Jerman yang sekaligus seorang sejarawan bernama Georg Wilhelm Friedrich Hegel membawa sekularisme dalam pembelajaran sejarah. Jauh sebelum itu, Ibnu Khaldun di bagian pembuka bukunya yang berjudul Muqaddimah, menuliskan tentang tujuh masalah yang sering digunakan oleh para sejarawan dalam menuliskan sejarah. Salah satu masalah yang dituliskan oleh Ibnu Khaldun adalah bahwa beberapa sejarawan di masa itu menggunakan takhayul dan penerimaan data sejarah yang sama sekali tidak kritis. Melihat kejadian ini, ia mengembangkan sebuah metode ilmiah dalam pembelajaran sejarah yang membutuhkan observasi dari state, komunikasi, propaganda, dan bias sistematik dalam sejarah. Karena hal tersebut jugalah Ibnu Khaldun dicanangkan sebagai bapak historiografi dan bapak filsuf sejarah.

Dalam perjalanannya, pembelajaran tentang sejarah mulai terbagi menjadi beberapa bidang yang lebih khusus dan mereka adalah: Sejarah Kuno, Sejarah Atlantik, Sejarah Seni, Sejarah Besar, Kronologis, Sejarah Komparatif, Sejarah Kontemporer, Sejarah Kontrafaktual, Sejarah Digital, Sejarah Kultur, Sejarah Ekonomi, Futurologi, Sejarah Intelektual, Sejarah Maritim, Sejarah Modern, Sejarah Militer, Sejarah Alam, Paleografi, Sejarah Manusia, Sejarah Politik, Psikohistori, Pseudohistori, Sejarah Sosial, Sejarah Universal, Sejarah Wanita, dan Sejarah Dunia. Pembagian macam-macam bidang studi yang lebih khusus ini dilakukan agar manusia bisa lebih memahami penggunaan sejarah sebagai ilmu, kisah, peristiwa, dan seni.