LATEST NEWS

Sejarah Terjadinya Perang Paderi

Author - November 14, 2014

Sejarah terjadinya perang Paderi – Perang Paderi dimulai pada tahun 1803 hingga 1838 dan merupakan satu dari sekian banyak perang yang terjadi saat Belanda menjajah Indonesia. Meski begitu, pada awalnya perang ini bukanlah perang yang mulia, karena disebabkan oleh pertentangan dalam masalah agama antara adat. Baru belakangan, kaum Adat yang sedang ada dalam kondisi kalah meminta bantuan Belanda, dimana akhirnya Belanda setuju membantu dan mendorong mundur musuh dari kaum Adat. Perang ini sempat reda dan kembali berlanjut pada tahun 1833, dimana pada masa itu kaum Adat mulai menyadari kesalahan mereka karena meminta bantuan pihak Belanda dan ikut membantu perang.

Sejarah Terjadinya Perang Paderi

Sejarah Singkat Terjadinya Perang Paderi
Sejarah terjadinya perang Paderi dimulai dengan pulangnya tiga orang ulama yang baru saja selesai melakukan ibadah haji dari Mekah pada tahun 1803. Ketiga orang tersebut ialah Haji Sumanik, Haji Miskin, dan Haji Piobang, dan ke-3 orang tadi memiliki niat untuk membenahi syariat Islam dari masyarakat Minangkabau yang mereka nilai masih belum sempurna. Tujuan mula ke-3 haji ini menyulut api semangat Tuanku Nan Renceh yang akhirnya ikut bergabung bersama mereka karena ia sangat setuju dengan tujuan yang direncanakan. Pada akhirnya, 4 orang ini bergabung dengan ulama-ulama lain yang punya pandangan sama dan membentuk perkumpulan bernama Harimau Nan Salapan.

Pada suatu masa, Harimau Nan Salapan meminta kaum Adat beserta Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah melalui Tuanku Lintau agar meninggalkan kebiasaan mereka yang agak bertentangan dengan syariat Islam yang sesungguhnya. Sayangnya, beberapa kali perundingan tidak menemukan sebuah kesepakatan antara kaum Adat dengan kaum Padri. Menyusul hal ini, beberapa nagari (desa) yang ada dalam kerajaan Pagaruyung mulai bergejolak dan mencapai puncak pada tahun 1815 dimana Tuanku Pasaman memimpin pasukan kaum Padri untuk menyerang kerajaan tersebut, memecahkan perang di Koto Tangah, menyebabkan tersingkirnya Sultan Arifin Muningsyah yang harus lari dari ibu kota kerajaan. Raffles yang mengunjungi Pagaruyung di tahun 1818, melalui catatannya berkata bahwa yang tersisa hanya puing-puing bekas terbakar.

Terlibatnya Belanda dalam sejarah terjadinya perang Paderi diprakarsai oleh Sultan Tangkal Alam Bagagar yang saat itu memimpin kaum Adat, karena kaum Adat sedang dalam kondisi kalah dan Yang Dipertuan Pagaruyung tidak jelas keberadaannya. Permohonan agar Belanda membantu ini dilaksanakan pada tanggal 21 Februari 1821, meskipun pada waktu itu Sultan Tangkal Alam tidak dalam kondisi yang berhak membuat perjanjian apapun dengan mengatasnamakan kerajaan Pagaruyung. Perjanjian ini membuat kerajaan Pagaruyung bagian dari daerah belanda, dan kemudian mereka menghadiahi Sultan Tangkal Alam Bagagar jabatan sebagai Regent Tanah Datar.

Bantuan pertama yang diberikan oleh Belanda yang diakibatkan oleh perjanjian bersama kaum Adat adalah penyerangan Simawang dan Sulit Air yang dipimpin oleh kapten Goffinet dan kapten Dienema atas perintah Residen James du Puy pada bulan April 1821. Pasukan tambahan kembali muncul pada 8 Desember 1821 yang dipimpin oleh letnan kolonel Raaff demi memperkuat posisi di daerah yang kini telah mereka kuasai. Akhirnya, pasukan Belanda yang dipimpin oleh Raaff mampu mengusir kaum Padri dari Pagaruyung pada tanggal 4 Maret 1822. Tidak lama, Belanda kemudian membangun sebuah benteng pernaha Fort Van der Capellen di Batusangkar sebagai fasilitas pertahanan, sementara kaum Padri bertahan di Lintau demi menyusun kekuatan mereka.

Setelah tewasnya kapten Goffinet pada tanggal 5 September 1822, Belanda harus mundur kembali ke Batusangkar karena serangan terus menerus kaum Padri saat mereka menyerang Baso. 13 April 1823 menjadi percobaan kedua Raaff untuk menyerang Lintau setelah mendapatkan bala bantuan, namun pertahanan kaum Padri memaksa Belanda kembali mundur pada tanggal 16 April, dan pada tanggal 17 April 1824 Raaff meninggal tiba-tiba karena demam tinggi. Beberapa bulan setelahnya, tepatnya di bulan September, pasukan Belanda yang dipimpin Mayor Frans Laemin berhasil menundukkan beberapa kawasan di Luhak Agam seperti Koto Tuo dan Ampang Gadang. Mereka juga berhasil menduduki Biaro dan Kapau dengan kematian Laemlin karena luka parah sebagai harga yang harus dibayar.

Pada 15 November 1825, perang Paderi memasuki babak tenang seiring dengan “perjanjian Masang” yang ditandatangani bersama Tuanku Imam Bonjol dan pemerintah Hindia-Belanda. Hal ini dikarenakan pihak Belanda sedang sibuk menghadapi Perang Diponegoro dan perang lain di Eropa. Selama masa tenang ini, Tuanku Imam Bonjol berusaha merangkul kembali kaum Adat dan berhasil, membuat kemampuan perang mereka bertambah untuk menghadapi Belanda ketika kaum Adat mulai menyadari betapa salahnya mereka mengundang Belanda dalam peperangan ini.

Pada 11 Januari 1833, pasukan baru yang kini merupakan gabungan kaum Adat dan padri mulai menyerang daerah pertahanan Belanda, dan memakan ratusan korban jiwa. Sultan Tangkal Alam Bagagar yang ditunjuk Belanda sebagai Regent Tanah Datar juga ditangkap dan diasingkan ke Batavia. Lamanya periode perang ini memaksa gubernur jenderal Belanda Johannes van den Bosch untuk melihat langsung kondisi perang Padri ini, dimana ia segera membuat rencana untuk menjatuhkan Benteng Bonjol yang jadi pusat komando pasukan Padri.

Serangan terhadap Benteng Bonjol ini menandakan fase terakhir dalam sejarah terjadinya perang Paderi karena setelah berkali-kali mundur dan gagal, pada 3 Agustus 1837 pasukan yang dipimpin oleh kolonel Michiels berhasil menguasai keadaan setelah bergelombang-gelombang serangan dan hujan peluru tanpa henti. Meski Benteng Bonjol berhasil ditaklukkan, Imam Bonjol berhasil melarikan diri dan bersembunyi. Setelah Imam Bonjol ditipu dengan janji perundingan dan diasingkan, benteng terakhir kaum Padri juga jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 28 Desember, dan mematikan api semangat perang pada jiwa pasukan Padri.